Jumat, 13 Agustus 2021

Pertemuan 3 melaksanakan pengurusan jenazah

 BAB 3

KEPEDULIAN UMAT ISLAM TERHADAP JENAZAH

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4b1MaDsY-Bn7LRSGHT4WdcBcGQXcBku57dBoEwFOlRI4pF4vDah4R6sMw_GoOfIwb1cnJO3oG_rxz6IRIYdHcxAq8zWFyIePuhBYw9DCpm30voYnDSHHR4ehtWBA5PUXzjK-MSyetK4c/s320/Screenshot_2015-12-10-20-12-06_1.jpg


A.  Perawatan Jenazah


Apabila  seseorang telah  dinyatakan positif  meninggal  dunia,  ada  beberapa hal yang harus disegerakan dalam pengurusan  jenazah  oleh  keluarganya, yaitu: memandikan, mengafani, menyalati  dan  menguburnya.  Namun, sebelum mayat itu dimandikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap  kondisi jenazah,  yaitu  seperti berikut. 

1.  Pejamkanlah matanya  dan  mohonkanlah  ampun kepada  Allah  Swt. atas segala dosanya. 

2.  Tutuplah  seluruh badannya  dengan kain  sebagai  penghormatan  dan agar  tidak kelihatan auratnya. 

3.  Ditempatkan di tempat yang aman dari jangkauan binatang.  

4.  Bagi keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya tidak dilarang mencium  si mayat.


1.  Memandikan Jenazah 


Syarat-syarat wajib memandikan jenazah 

a.  Jenazah itu orang Islam.

b.  Didapati tubuhnya walaupun sedikit. 

c.  Bukan  mati  syahid  (mati  dalam  peperangan  untuk  membela  agama  Islam seperti yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw.). 


Yang berhak memandikan  jenazah

a.  Apabila  jenazah  itu  laki-laki,  yang  memandikannya  hendaklah  laki-laki pula.  Perempuan  tidak  boleh  memandikan  jenazah  laki-laki,  kecuali  istri dan  mahram-nya. 

b.  Apabila  jenazah  itu  perempuan, hendaklah  dimandikan  oleh  perempuan pula, laki-laki tidak boleh memandikan kecuali suami atau  mahram-nya. 

c.  Apabila  jenazah  itu  seorang istri, sementara  suami  dan  mahram-nya  ada semua, suami lebih berhak untuk memandikan istrinya. 

d.  Apabila  jenazah  itu  seorang suami, sementara  istri  dan  mahram-nya  ada semua, istri lebih berhak untuk memandikan suaminya.

Kalau mayat anak laki-laki masih kecil, perempuan boleh memandikannya.  Begitu juga kalau mayat  anak perempuan  masih kecil, laki-laki boleh memandikannya. 


Berikut  ini  tata  cara  memandikan jenazah

a. Di tempat tertutup agar yang melihat hanya  orang-orang  yang memandikan  dan yang mengurusnya saja. 

b. Mayat  diletakkan  di  tempat yang tinggi seperti dipan.

c.  Dipakaikan  kain basahan seperti sarung agar auratnya tidak terbuka. 

d.  Mayat  didudukkan  atau  disandarkan  pada  sesuatu,  lantas disapu  perutnya sambil ditekan pelan-pelan agar semua kotorannya keluar, lantas dibersihkan dengan tangan kirinya, dianjurkan mengenakan sarung tangan. Dalam hal ini  boleh  memakai  wangi-wangian  agar  tidak  terganggu  bau  kotoran  si mayat. 

e.  Setelah  itu  hendaklah  mengganti  sarung tangan  untuk  membersihkan  mulut dan gigi si mayat. 

f.  Membersihkan semua kotoran dan najis. 

g.  Mewudhukan,  setelah  itu membasuh seluruh badannya. 

h.  Disunahkan membasuh  tiga sampai lima kali. Air untuk memandikan  mayat sebaiknya dingin. Kecuali  udara sangat dingin atau terdapat  kotoran yang sulit dihilangkan,  boleh menggunakan air hangat.


2. Mengafani Jenazah 


Pembelian  kain  kafan  diambilkan  dari  uang si mayat  sendiri.  Apabila  tidak ada, orang yang selama  ini menghidupinya  yang membelikan  kain kafan. Jika ia tidak  mampu,  boleh  diambilkan  dari  uang  kas  masjid,  atau  kas  RT/RW,  atau  yang lainnya  secara sah.  Apabila tidak ada sama sekali, wajib atas orang muslim yang mampu untuk membiayainya. 


Kain kafan paling  tidak  satu lapis. Sebaiknya  tiga  lapis bagi mayat  laki-laki dan lima  lapis  bagi  mayat  perempuan.  Setiap  satu lapis  di antaranya  merupakan kain  basahan.  Abu Salamah  ra. menceritakan,  bahwa ia  pernah  bertanya  kepada ‘Aisyah ra.  “Berapa  lapiskah  kain  kafan  Rasulullah  saw.?”  “Tiga  lapis  kain putih,”  jawab  Aisyah. (HR. Muslim). 


Cara membungkusnya adalah hamparkan  kain kafan helai  demi helai dengan menaburkan kapur barus pada tiap  lapisnya.  Kemudian,  si mayat diletakkan  di atasnya. Kedua tangannya dilipat  di  atas dada  dengan  tangan kanan di atas tangan kiri. Mengafaninya pun  tidak  boleh  asal-asalan.  “Apabila kalian  mengafani  mayat  saudara kalian, kafanilah  sebaik-baiknya.” 


3. Menyalati Jenazah 


Orang yang  meninggal  dunia  dalam keadaan  Islam berhak untuk di-ṡalatkan. Sabda Rasulullah saw. “Ṡalatkanlah  orang-orang  yang telah mati.”  (HR. Ibnu Majah).  “Salatkanlah  olehmu orang-orang yang mengucapkan: “Lailaaha  Illallah.”(HR.Daruquṭni). Dengan demikian,  jelaslah  bahwa orangyangberhakdiṡalatiialahorang yang  meninggal  dunia  dalam  keadaan beriman  kepada  Allah  Swt. Adapun orang yang telah murtad dilarang untuk disalati.


syarat mayat yang disalati

1.  suci, baik suci badan, tempat, dan pakaian. 

2.  sudah dimandikan dan dikafani. 

3.  jenazah sudah berada di depan orang yang menyalatkan  atau sebelah kiblat. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0x02P_XBZ11g1HPddNIuSZBsO_htCtvqE9-DZCbqaOmkoxacIbJzxZKP-XvipoTFvCNwzA4_JeLLaRwrf4zAJqhhsm6WoR5QLRMh-X_-ZM-RwTTDO6PXTnSlOSr1B9t-fr-FnJRoCk04/s640/Screenshot_2015-12-10-20-13-00_1.jpg


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDgea75sd6o4v0cwnopp86Hso9JxvCEgSY9o9nvT2krBvTfX5cB16Vh8YDdwHi0XMizqMp8kVewjQNofNNcQeDCV68T2cTJMbUF6n7VJyloEzXXfvxJVh5gPUwz0hM2gKLxfcH8wjr9-g/s400/Screenshot_2015-12-10-20-13-07_1.jpg


4. Mengubur  Jenazah


Perihal mengubur jenazah ada beberapa penjelasan sebagai berikut. 

1.  Rasulullah saw. menganjurkan agar jenazah segera dikuburkan, sesuai sabdanya: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgk1SvQLcROf06VPSPLjkVmMCS0qxyJHNoMChRfGLw2wz3o94kjDTDyP6QnfZ-6c2J3Wxa7KpoAgT3M1xQHaizJglaja6QaPj-vWmKA3SqAcYeeeZ6ooMGrn3Ax7iw7GwBunpTAYJKORjk/s320/Screenshot_2015-12-10-20-59-18_1.jpg


2.  Sebaiknya menguburkan jenazah pada siang hari. Mengubur mayat pada malam  hari diperbolehkan  apabila  dalam  keadaan  terpaksa seperti  karena  bau yang  sangat  menyengat  meskipun  sudah diberi  wangi-wangian,  atau  karena sesuatu hal lain yang harus disegerakan untuk  dikubur. 

3.  Anjuran meluaskan lubang kubur. Rasulullah  saw. pernah  mengantar  jenazah sampai  di kuburnya. Lalu,  beliau  duduk di tepi  lubang kubur, dan bersabda, “Luaskanlah pada bagian  kepala,  dan luaskan  juga  pada bagian  kakinya.  Ada beberapa kurma baginya di surga.”  (HR. Ahmad  dan Abu  Dawud)

4.  Boleh menguburkan  dua tiga jenazah dalam satu liang kubur. Hal itu dilakukan sewaktu usai perang Uhud.  Rasulullah saw. bersabda,  “Galilah dan dalamkanlah. Baguskanlah dan masukkanlah  dua atau tiga  orang di  dalam satu liang kubur. Dahulukanlah (masukkan lebih  dulu)  orang yang  paling  banyak  hafal  alQur’ān.”  (HR. Nasai dan  Tirmidzi dari Hisyam bin  Amir ra.) 

5.  Bacaan  meletakkan  mayat dalam  kubur.   Apabila meletakkan  mayat  dalam kubur, Rasulullah saw. membaca: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOeQAhUzwUspbgtB5pdak-7uUodKvYOFId21RK3GkgbD1rG8EhDSfgvHqd6-PwGJv2iAIiDdFdzB_ARlkLPdZXpF9FFQBaP4TfN95FefPDuPoFOm2eGlnVGFnHuCAZWjx5EPT_ppWjSNw/s400/Screenshot_2015-12-10-20-59-38_1.jpg

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. membaca:  

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2V3iBAF06Z5J6G3QihtZx7h9SYtoPnbCg0KOPxKPbBhh6DLh_4kQWXvkEmd1afB8ld_ywaUIIpWSD0tLVd5NQYgddmvlqGNYBezd_BBeZG79Mneroa5ea44ciMhlHoafhyphenhypheniIIhmuWNKA/s320/Screenshot_2015-12-10-20-59-38_2.jpg


6.  Larangan memperindah kuburan. Jabir ra. menerangkan,  “Rasulullah saw. melarang mengecat kuburan, duduk, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim) 

7.  Sebelum dikubur, ahli waris atau keluarga hendaklah bersedia menjadi penjamin atau menyelesaikan atas hutang-hutang si mayat jika ada, baik dari harta yang ditinggalkannya  atau  dari  sumbangan  keluarganya.  Nabi  Muhammad  saw. bersabda:  “Diri orang mu’min itu  tergantung  (tidak  sampai  ke  hadirat  Tuhan), karena hutangnya, sampai  dibayar dahulu utangnya itu (oleh keluarganya).” (HR.  Ahmad dan  Tirmidzi dari  Abu Hurairah ra.)



B. Ta’ziyyah  (Melayat)


Ta’ziyyah  atau melayat  adalah mengunjungi  orang yang sedang tertimpa  musibah kematian  salah seorang keluarganya dalam rangka  menghibur  atau  memberi semangat.  Para  mu’azziy³n  (orang laki-laki  yang ber-ta’ziyyah) atau mu’azziyāt  (orang perempuan yang ber-ta’ziyyah) hendaknya memberikan  dorongan kekuatan mental  atau  menasihati  agar  orang yang tertimpa  musibah tetap sabar dan tabah menghadapi  musibah ini.  Umayah  ra.  mengatakan  bahwa  anak perempuan Rasulullah  saw. menyuruh seseorang untuk memanggil dan memberi tahu beliau  bahwa anaknya  dalam keadaan  hampir mati. Lalu, beliau  bersabda, “Kembalilah engkau kepadanya. Katakan bahwa segala yang diambil dan yang diberikan,  bahkan  apa pun yang  ada di  hadapan kita  kepunyaan  Allah.  Dialah yang menentukan ajalnya, maka suruhlah ia sabar  dan tunduk kepada perintah.” (HR. Bukhari Muslim) 


Adab (etika) orang ber-ta’ziyyah  antara lain seperti berikut. 

1.  Menyampaikan doa untuk kebaikan dan ampunan terhadap orang yang meninggal serta kesabaran bagi orang yang ditinggal. 

2.  Hindarilah pembicaraan yang menambah sedih keluarga yang ditimpa musibah. 

3.  Hindarilah canda-tawa apalagi sampai terbahak-bahak. 

4.  Usahakan turut menyalati mayat  dan turut mengantarkan  ke pemakaman sampai selesai penguburan. 

5.  Membuatkan makanan bagi keluarga yang ditimpa musibah. 


Demikian  diperintahkan  Rasulullah  saw. kepada  keluarganya  sewaktu keluarga Ja’far ditimpa kematian (HR. Lima  Ahli Hadis kecuali Nasai). 


C.  Ziarah Kubur


Ziarah  artinya  berkunjung,  kubur  artinya  kuburan.  Ziarah  kubur  artinya berkunjung ke kuburan.  Awalnya Rasulullah  saw. melarang umat Islam untuk berziarah kubur karena dikhawatirkan akan melakukan sesuatu hal yang tidak baik, misalnya  menangis  di atas kuburan, bersedih, meratapi,  bahkan yang lebih bahaya adalah mengultuskan  mayat yang ada di kuburan.  Akan tetapi,  karena

mengingat  mati itu penting, dan di antara mengingat  mati adalah ziarah kubur,  Rasulullah saw. menganjurkan berziarah dengan tujuan untuk mengingat mati. Rasulullah saw.  bersabda: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidZxkgMnbuYNVVJWmVJI6EVmgQe6HuQtQi2IDoGPwBrTZYzRUJD1JuQ-rRFyM3X1FiIKtjKPEGe3PQqSXNzLLSK7weW6VUfTon3uXii-9AK0zqy12HZCzsKKQlCyVrGZXmvGz_ptNrzEg/s400/Screenshot_2015-12-10-20-59-56_1.jpg


Di antara hikmah dari ziarah kubur ini antara lain seperti berikut. 

1.  Mengingat  kematian. 

2.  Dapat  bersikap  zuhud  (menjauhkan diri dari sifat keduniawian). 

3.  Selalu  ingin berbuat  baik sebagai bekal kelak di alam  kubur dan hari akhir. 

4.  Mendoakan  si  mayat  yang  muslim agar  diampuni  dosanya  dan  diberi kesejahteraan di akhirat. 


Adab  atau  etika berziarah kubur, yaitu: 

1.  Ketika  mau berziarah,  niatkan  dengan ikhlas karena  Allah Swt., tunduk hati dan merasa diawasi oleh  Allah Swt. 

2.  Sesampai di pintu kuburan, ucapkan salam sebagaimana yang diajarkan  oleh Rasulullah saw.: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXGyIwMXp7JxCO77hDzKlIty_H_lNZJykYiBN1HBRjEWBNJ-92URL0_zSEpxUFttaLEx97P1wQB3CYB2fiLUab3zc44-o8quR7AC5Z5YgtCnbMVo4OJr2IAGNg_6BF-z2Dr74LcOu4q_o/s400/Screenshot_2015-12-10-21-00-02_1.jpg


3.  Tidak banyak bicara mengenai urusan dunia di atas kuburan. 

4.  Berdoa untuk ampunan dan kesejahteraan  si mayat  di alam  barzah  dan akhirat kelak. 

5.  Diusahakan  tidak  berjalan  melangkahi  kuburan  atau  menduduki  nisan  (tanda kuburan).


Kita sebagai muslim harus peduli dengan orang lain, terutama  yang berada di sekitar  kita.  Ketika  ada orang yang meninggal  atau  musibah lainnya,  selayaknya kita harus  memperlihatkan  perilaku-perilaku  mulia antara lain seperti berikut. 

1.  Segera  mengunjungi  keluarga  yang  terkena  musibah, mendoakan  mayat, mengucapkan turut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan.

2.  Membantu  persiapan pengurusan jenazah  seperti memandikan,  mengafani, menyalati, dan menguburkan. 

3.  Memberikan bantuan  kepada keluarga korban untuk memperingan  bebannya sesuai kemampuan kita. 

4.  Menghibur keluarga korban dengan ungkapan-ungkapan optimistis dan nasihat tentang kesabaran dan ketabahan.

Pertemuan 2 berani hidup jujur

 BAB 2

HIDUP NYAMAN DENGAN PERILAKU JUJUR


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuDXDId027eU3RI9akca-marGVelD4f-EYfegRqtWTGBGuyUeNTGL9WxowlJySs2LzzWNVTg0SolXP9Oj9A0-SGUTvch4lf85YLhDeG7_yyTFJO345vYXNl6e1PSW852735qggelNXupM/s320/Screenshot_2015-12-10-20-10-39_1.jpg


A.  Pentingnya Perilaku Jujur 


Jujur memiliki  arti  kesesuaian antara apa yang diucapkan atau diperbuat dengan kenyataan yang ada.  Jadi, kalau suatu berita  sesuai dengan keadaan yang  ada,  dikatakan  benar/jujur, tetapi  kalau  tidak,  dikatakan  dusta.  Allah  Swt. memerintahkan  kepada  kita  untuk  berlaku  benar  baik  dalam  perbuatan  maupun ucapan,sebagaimana firman-Nya dalam Q.S.  at-Taubah/9: 119

Artinya:  “Wahai  orang-orang yang  beriman! Bertakwalah  kepada  Allah,  dan bersamalah  kamu  dengan  orang-orang  yang  benar.”  (Q.S.  at-Taubah/9: 119) 


Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan. Kejujuran  merupakan  sifat  seorang yang beriman,  sedangkan lawannya,  dusta, merupakan sifat orang yang munafik.Ciri-ciri orang munafik adalah dusta,ingkar janji, dan khianat, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-xNzw-5bdap_Bpjj5uwgZnmkneviGcixuayVkHDqzFb5Uik7NufpZCQQblsjnWkdB5Q-SDNAOK-jvt4BKdG93PzxmrS9wY1fQc6Rze3x5yW_RSe3wp8A8_EYxBUb_MZ95f_MFuqK9Bx8/s320/Screenshot_2015-12-10-20-11-06_1.jpg

Ibnul  Qayyim  berkata,  dasar  iman  adalah  kejujuran  (kebenaran),  sedangkan dasar nifaq  adalah  kebohongan  atau  kedustaan.  Tidak  akan pernah  bertemu  antara kedustaan dan keimanan  melainkan  akan saling bertentangan  satu sama lain. Allah Swt. menegaskan bahwa tidak  ada yang bermanfaat  bagi seorang hamba  dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjao35WzYstp56LK93sa94qTzeRnEO7DKoYQehmycgSlICskzsFSd-Sfx7kuJ1UvRRoFLK1qz3g9hE4RAgeys8hiapPrn38-YTQiRkro_8l-EWUyzsbkv3H3MDDXMnt6xU_8R6EQvKzU_c/s320/Screenshot_2015-12-10-20-11-12_1.jpg

B.  Keutamaan Perilaku Jujur


Kejujuran merupakan akhlak  mulia  yang  akan  mengarahkan  pemiliknya  kepada  kebajikan,  sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw., 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOyTEk0H0PptkIDTxTcM-VHwYLZ3NsTsYX8p8Nkrs2txPRnKlSbuKXPWLI8n9t7OLKMCYWDNfGZaHL7OvPgYl7KnEMi6T61D9LzlBEDsP9DpExFuDGgPhXq3tExvMQpqpqRQWe7SGCQbw/s320/Screenshot_2015-12-10-20-11-19_1.jpg

Pemilik  kejujuran  memiliki  kedudukan  yang  tinggi di  dunia  dan  akhirat.  

Dengan  kejujurannya,  seorang  hamba  akan  mencapai  derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan. 

Orang yang jujur akan dipermudah rezeki  dan segala urusannya. 

Kejujuran berbuah kepercayaan.  

Jujur membuat hati  kita  tenang, sedangkan berbohong membat  hati  jadi  was-was. 



C.  Macam-Macam Kejujuran


Menurut tempatnya,  jujur  itu  ada  beberapa  macam,  yaitu  

1.  Jujur dalam niat dan kehendak,  yaitu  motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam  rangka menaati  perintah  Allah Swt. dan  ingin  mencapai  riḍaNya.  Jujur  sesungguhnya berbeda dengan pura-pura jujur. Orang  yang  pura-pura jujur berarti tidak  ikhlas dalam berbuat.

2.  Jujur dalam  ucapan,  yaitu memberitakan  sesuatu sesuai dengan realitas  yang terjadi, kecuali  untuk kemaslahatan yang dibenarkan dengan ikhlas oleh  syari’at  seperti  dalam  kondisi  perang,  mendamaikan  dua  orang  yang bersengketa,  dan semisalnya.  Setiap  hamba  berkewajiban  menjaga  lisannya, yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan. 

3.  Jujur  dalam  perbuatan,  yaitu  seimbang  antara  lahiriah dan  batiniah  hingga tidaklah  berbeda  antara  amal  lahir  dan  amal  batin.  Jujur  dalam  perbuatan  ini jugaberartimelaksanakansuatupekerjaansesuaidenganyangdiriḍaiAllah Swt. dan melaksanakannya secara terus-menerus dan ikhlas. Merealisasikan kejujuran, baik jujur dalam hati, jujur dalam perkataan,    maupun jujur  dalam  perbuatan  membutuhkan  kesungguhan.  Adakalanya  kehendak  untuk jujur itu lemah, adakalanya pula menjadi kuat.


D.  Petaka Kebohongan 


Kebohongan akan menghantarkan pelakunya tidak dipercaya lagi oleh orang lain. Ketika  seseorang sudah berani  menutupi  kebenaran,  bahkan  menyelewengkan kebenaran  untuk  tujuan  jahat,  ia  telah  melakukan  kebohongan.  Kebohongan  yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang dikhianatinya itu.


E.  Hikmah Perilaku Jujur


Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari  perilaku jujur, antara lain sebagai berikut. 

1.  Perasaan  enak dan  hati  tenang,  jujur  akan membuat  kita menjadi  tenang, tidak takut akan  diketahui  kebohongannya  karena memang tidak berbohong. 

2.  Mendapatkan kemudahan  dalam hidupnya. 

3.  Selamat dari azab dan bahaya. 

4.  Dijamin masuk surga. 

5. Dicintai oleh Allah Swt. dan rasul-Nya.


Perilaku  jujur  bisa diterapkan  dalam  berbagai  hal  dalam  kehidupan  sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat di mana kita tinggal. Berikut ini cara menerapkan perilaku jujur. 

1.  Di sekolah,  kita bisa meluruskan niat untuk menuntut ilmu, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan  oleh ibu bapak guru, tidak  menyontek  pekerjaan teman,  melaksanakan  piket  sesuai  jadwal,  menaati  peraturan  yang berlaku di sekolah,  berbicara  secara  benar  baik  kepada  guru, teman  ataupun  orangorang yang ada di lingkungan sekolah. 

2.  Di rumah, kita  bisa meluruskan niat  untuk berbakti  kepada  orang tua, memberitakan  hal yang benar. Contohnya saat meminta  uang untuk kebutuhan  suatu hal,  tidak  menutup-nutupi  suatu masalah  pada  orang  tua, tidak melebih-lebihkan sesuatu hanya untuk membuat orang tua senang. 

3.  Di masyarakat, kita bisa melakukan kejujuran dengan niat untuk membangun lingkungan yang baik, tenang, dan tenteram,  tidak mengarang cerita  yang membuat  suasana di lingkungan tidak kondusif, tidak membuat  gosip. Ketika  diberi  kepercayaan  untuk melakukan  sesuatu yang diamanahkan, harus dipenuhi dengan sungguh-sungguh, dan lain sebagainya.

Pertemuan 1. Beriman kepada kitab kitab Allah swt

 BAB 1

AL-QUR'AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyxEnuwExN5Sh5YH5Z67IhvgLJHaXFOAwyehvLUnVAS54iPqa4TjNy2CFLOtVF1qotlQ84pgscMC5DdUIJQmEOhd8JFHXR33vNvsZx8uNPdkKeB1aOeoTbl-p6YgXPR1XkwBAefBgIugc/s320/Screenshot_2015-12-10-20-08-51_1.jpg

peta konsep


A.  Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab  Allah Swt. 


Iman kepada  kitab  Allah Swt. artinya  meyakini  sepenuh hati  bahwa Allah Swt. telah menurunkan kitab kepada nabi atau rasul yang berisi wahyu untuk disampaikan  kepada seluruh umat  manusia. Di dalam al-Qur’ān  disebutkan bahwa ada 4 kitab  Allah  Swt. yang  diturunkan kepada  para  nabi-Nya,  yaitu; 

  • Taurāt diturunkan  kepada Nabi Musa as., 

  • Zabūr  kepada  Nabi  Daud as.,  

  • Injil kepada  Nabi  Isa as., dan  

  • al-Qur’ān kepada Nabi Muhammad saw. 

Firman  Allah  Swt dalam QS. Al-Maidah/5:48 :


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg30Rho3v51KUBp8HfyVWHrX9fwBzlTwA2iXUKqGTRdKAC-maUVVZP5yzsM2HXAm1TvJDAIk6PB2XT0_6pOpG9CXBxW0ml1N3HITRp_MlXNqK9zdBYtka4yZ_JqnWmc3R5wl2k0A96xMeQ/s320/Screenshot_2015-12-10-20-09-19_1.jpg


Kitab-kitab  yang  dimaksud  pada ayat di atas adalah  kitab yang berisi peraturan,  ketentuan,  perintah, dan larangan  yang dijadikan  pedoman bagi umat  manusia. Semua kitab  tersebut berisi ajaran pokok yang sama, yaitu ajaran meng-esa-kan Allah  (tauhid). 


B.  Pengertian Kitab dan  Ṡuḥuf 


Kitab merupakan  wahyu  Allah  Swt. yang disampaikan  kepada  para rasul  untuk  disampaikan  kepada  manusia  sebagai  petunjuk  dan  pedoman  hidup. Perbedaan antara kitab dan  ṡuḥuf  bisa dilihat pada tabel berikut. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmo6KfIvxOMFNyZr54AQWxd8pHQuqGyuxOeXrvtOf7478wkh4N2z4gI6LNf2QwI9Sl6M1DFFoKgfjB6Obe-Z4GTn2oAInDl1K-QPT4g4ZY9RFjD5RML65Y81kse2lReHhP9ho1Vj3mbB8/s320/Screenshot_2015-12-10-20-09-46_1.jpg


Di dalam  al-Qur’ān  disebutkan adanya  ṡuḥuf  yang dimiliki Nabi Musa as. dan Nabi Ibrahimas.Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO2g8BPaswyFM3nNIsVVw-6LuINVHpcq4Xg-S1ZPND6ectbgF0EpwPr1mvC3CSGhPC0L-Qz_U6SDVdpw9so2_ucIJ9B2imNVxqhjSoqP1-f4O_Mohi-_U3wkgRU8BsWaoD8fDhOm2HGzo/s320/Screenshot_2015-12-10-20-09-46_2.jpg


C.  Kitab-Kitab  Allah Swt. dan Para Penerimanya


1.  Kitab Taurāt  

Kata  taurat  berasal  dari  bahasa Ibrani  (thora:  instruksi).  Kitab  Taurāt  adalah salah satu kitab  suci yang diwahyukan  Allah Swt. kepada  Nabi Musa as. untuk menjadi  petunjuk dan  bimbingan  baginya  dan  bagi  Bani  Israil.  Firman  Allah  Swt: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQ4wfJ9Tz_TvVnwQy63TmPrAVeY2PtEEbfFM7eRczmjHU3EGHRc5eQIag-Xge2DVw_yFz8f032PZeUHg_eETGTa5fnS9sCMiaIDlZKxO4a950HWuYBBGmb2fbjmUDPxnH43szd1D1hcSE/s320/Screenshot_2015-12-10-20-09-52_1.jpg


Taurāt  merupakan  salah satu dari tiga komponen (Thora,  Nabin, dan  Khetubin) yang terdapat  dalam  kitab suci agama  Yahudi yang disebut  Biblia  (al-Kitab), yang belakangan  oleh orang-orang  Kristen  disebut  Old  Testament (Perjanjian Lama). Isi pokok Kitab  Taurāt  dikenal  dengan Sepuluh Hukum  (Ten Commandements) atau Sepuluh  Firman  yang  diterima  Nabi  Musa as. di atas Bukit  Tursina (Gunung Sinai). Sepuluh Hukum tersebut  berisi  asas-asas keyakinan (akidah) dan asas-asas kebaktian (syar³'ah), seperti berikut.

1.  Hormati dan cintai  Allah satu saja, 

2.  Sebutkan nama  Allah dengan hormat, 

3.  Kuduskan hari  Tuhan (hari ke-7 atau hari Sabtu), 

4.  Hormati ibu bapakmu, 

5.  Jangan membunuh, 

6.  Jangan berbuat cabul, 

7.  Jangan mencuri, 

8.  Jangan berdusta, 

9.  Jangan ingin berbuat cabul, 

10. Jangan ingin memiliki barang orang lain dengan cara yang tidak halal.


2.   Kitab Zabūr

Kata  zabur  (bentuk jamaknya  zubūr) berasal dari  zabara-yazburu-zabr  yang berarti  menulis. Makna aslinya adalah  kitab  yang tertulis.  Zabūr dalam  bahasa  Arab dikenal dengan sebutan mazmūr  (jamaknya  mazāmir),  dan dalam  bahasa Ibrani disebut  mizmar, yaitu nyanyian rohani yang  dianggap  suci.  Sebagian  ulama  menyebutnya Mazmūr,  yaitu  salah  satu  kitab  suci  yang  diturunkan sebelum  al-Qur’ān  (selain  Taurāt   dan  Injil  ). Dalam bahasa Ibrani, istilah  zabur  berasal dari kata  zimra, yang berarti “lagu atau musik”, zamir  (lagu)  dan  mizmor  (mazmur),  merupakan pengembangan  dari  kata  zamar,  artinya  “nyanyi, nyanyian  pujian”.  Zabūr  adalah  kitab  suci yang diturunkan  Allah Swt. kepada  kaum  Bani  Israil  melalui  utusannya yang bernama Nabi Daud as. Ayat yang menegaskan keberadaan Kitab Zabūr antara lain: 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSD08axIcczo5YxB0OwXdGyR1ZocA4sgXdCX91pVQi66bQq5MUpjfAfnDGm4VNdK8anuWDrjeXSTYDKUPYc-iW_Td7bHo4qWcc4TXQyykeBxmHbQPy0tGwRPbMfZbLlTkwvarjtVKR-Pk/s320/Screenshot_2015-12-10-20-09-57_1.jpg


Kitab  Zabūr  berisi kumpulan ayat-ayat  yang dianggap suci.  Ada 150 surah  dalam  Kitab  Zabūr  yang  tidak  mengandung  hukum-hukum,  tetapi  hanya  berisi nasihat-nasihat, hikmah, pujian, dan sanjungan kepada  Allah Swt. Secara  garis  besar,  nyanyian  rohani  yang  disenandungkan  oleh  Nabi  Daud  as. dalam Kitab  Zabūr  terdiri atas lima macam: 

1.  nyanyian untuk memuji  Tuhan (liturgi), 

2.  nyanyian perorangan sebagai ucapan syukur, 

3.  ratapan-ratapan jamaah, 

4.  ratapan dan doa individu, dan 

5.  nyanyian untuk raja.


Nyanyian pujian dalam Kitab  Zabūr  (Mazmur: 146) antara lain: 

1.  Besarkanlah olehmu akan  Tuhan hai jiwaku,  pujilah  Tuhan. 

2. Maka aku akan memuji Tuhan. seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada  Tuhanku selama aku ada. 

3.  Janganlah  kamu percaya  pada raja-raja  atau  anak-anak  Adam yang tiada mempunyai pertolongan. 

4.  Maka putuslah nyawanya dan kembalilah  ia  kepada  tanah  asalnya  dan pada hari itu hilanglah segala daya upayanya. 

5.  Maka berbahagialah  orang yang memperoleh  Ya’qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada  Tuhan. 

6.  Yang menjadikan  langit, bumi dan laut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya. 

7.  Yang membela  orang yang teraniaya  dan yang memberi  makan  orang yang lapar. Bahwa Tuhan membuka rantai orang yang terpenjara.


3.  Kitab Injil 

Kitab  Injil  diwahyukan  oleh Allah Swt. kepada Nabi Isa as. Kitab  Injil  yang asli memuat keterangan-keterangan  yang benar dan nyata, yaitu  perintah-perintah Allah Swt. agar manusia  meng-esa-kan dan tidak menyekutukan-Nya  dengan suatu  apa  pun.  Ada pula  penjelasan, bahwa di dalam  Kitab  Injil  terdapat keterangan  bahwa di  akhir  zaman  akan lahir  nabi  yang  terakhir  dan  penutup  para nabi  dan rasul, yaitu  bernama  Ahmad atau Muhammad saw.  Kitab  Injil  diturunkan  kepada  Nabi Isa as. sebagai  petunjuk  dan cahaya  penerang  bagi manusia.  Kitab  Injil  sebagaimana dijelaskan  dalam  al-Qur’ān, bahwa Isa as. untuk mengajarkan tauhid kepada umatnya  atau  pengikutnya.  Tauhid di sini artinya  meng-esa-kan  Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Penjelasan ini tertulis dalam  Q.S.  al-Ḥadid  /57: 27.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinL4cCOSBjpHXb0DOjZ9y7ccTRKcuTLCkohyiv4NH1ezPX7I7swRPICRrw-Hpb6DNTi4ERpzSmi8d5gjEhwSpBQjDc-jJ-2FXXmEQIcvLtFZqh9eX50SoLNhSPaRYHkYhy3fsQUVLmM2g/s320/Screenshot_2015-12-10-20-10-06_1.jpg


Kitab  Injil  yang  sekarang memuat  tulisan  dan  catatan  perihal  kehidupan  atau  sejarah  hidupnya  Nabi  Isa as. Kitab ini ditulis menurut versi penulisnya, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yahya (Yohana). Mereka adalah bukan dari orang-orang yang dekat dengan masa hidupnya  Nabi Isa as. Sejarah mencatat  sebenarnya  masih  ada  lagi  Kitab  Injil versi Barnaba. Isi dari  Injil Barnaba  ini sangat berbeda  dengn isi Kitab  Injil  empat macam yang tersebut di atas.


4.  Kitab al-Qur’ān 

 Al-Qur’ān  diturunkan  Allah  Swt. kepada  Nabi  Muhammad  saw. melalui Malaikat  Jibril.  Al-Qur’ān  diturunkan  tidak sekaligus, melainkan  secara berangsurangsur. Waktu  turun  al-Qur’ān  selama kurang  lebih  23 tahun  atau  tepatnya    22 tahun  2 bulan  22 hari.  Terdiri atas  30 juz, 114 surat, 6.236 ayat, 74.437 kalimat,  dan 325.345 huruf. 


Wahyu pertama adalah surah  al-‘Alaq ayat  1-5, diturunkan  pada malam  17 Ramaḍan  tahun  610  M. di  Gua  Hira,  ketika Nabi  Muhammad saw. sedang ber-khalwat. Dengan diterimanya wahyu pertama ini, Nabi Muhammad  saw. diangkat sebagai Rasul,  yaitu  manusia  pilihan  Allah  Swt. yang  diberi  wahyu untuk  disampaikan kepada  umatnya. Mulai  saat itu,  Rasulullah  saw. diberi  tugas oleh  Allah  Swt. untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat manusia. Wahyu yang terakhir  turun adalah  Q.S.  al-Māidah  ayat  3.  Ayat tersebut  turun pada  tanggal  9  Ḍulhijjah  tahun  10 Hijriyah  di  Padang  Arafah,  ketika  itu   beliau sedang  menunaikan  haji  wada’ (haji  perpisahan).  Beberapa  hari  sesudah  menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad saw. wafat. 


Al-Qur’ān  yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. menghapus sebagian  syariat yang tertera  dalam  kitab-kitab  terdahulu dan melengkapinya dengan tuntunan  yang sesuai dengan perkembangan  zaman.  Al-Qur’ān  merupakan kitab suci terlengkap dan berlaku bagi semua umat manusia sampai akhir zaman. Oleh karena itu, sebagai  muslim,  kita  tidak  perlu meragukannya sama sekali. Firman  Allah  Swt.: Artinya:  “Kitab  (al-Qur’ān)  ini  tidak  ada  keraguan  padanya;  petunjuk  bagi mereka yang bertakwa.”  (Q.S.  al-Baqarah/2: 2)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUFrtNrXY0da0O2oUuddY6qmvGhB7yMaggC5wxWEv8-6-AeJyGNGKd7nhg-4KnkzHiurnf-J58-3P6ca40MntIdFJn6qpDSSEqlzbz8rV-52RQ4Dbmn2eQioS62KaRXTZV0V2lNGWQvu0/s320/Screenshot_2015-12-10-20-10-16_1.jpg



5.  Nama-Nama Lain al-Qur’ān 

a.  Al-Hudā, artinya  al-Qur’ān  sebagai petunjuk seluruh umat manusia.

b.  Al-Furqān, artinya  al-Qur’ān  sebagai pembeda antara  yang baik dan buruk. 

c.  Asy-Syifā', artinya  al-Qur’ān  sebagai penawar (obat penenang hati). 

d.  Aż-Żikr, artinya  al-Qur’ān  sebagai peringatan adanya ancaman dan balasan. 

e.  Al-Kitāb, artinya  al-Qur’ānadalahfirmanAllahSwt.yangdibukukan.


6.  Isi al-Qur’ān 

a.  Aqidah  atau  keimanan. 

b.  'Ibādah,  baik 'ibādah  maḥḍah  maupun  gairu maḥḍah. 

c.  Akhlaq  seorang hamba kepada  Khāliq,  kepada sesama manusia dan alam sekitarnya. 

d.  Mu’āmalah,  yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia. 

e.  Qiṡṡah,  yaitu cerita  nabi dan rasul, orang-orang saleh, dan orang-orang yang ingkar. 

f. Semangat mengembangkan ilmu pengetahuan.


7.  Keistimewaan al-Qur’ān

a.  Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa 

b.  Sebagai  informasi  kepada setiap  umat  bahwa nabi dan rasul terdahulu mempunyai  syariat  (aturan)  dan  caranya  masing-masing  dalam  menyembah Allah Swt. 

c.  Al-Qur’ān  sebagai kitab suci terakhir dan terjamin keasliannya. 

d.  Al-Qur’ān  tidak dapat tertandingi oleh ide-ide manusia yang ingin menyimpangkannya. 

e. Membaca dan mempelajari isi al-Qur’ān merupakan ibadah.


Bagi orang yang beriman kepada kitab-kitab  Allah Swt., ia akan melakukan perilaku mulia sebagai berikut. 

1.  Meyakini bahwa kitab-kitab suci sebelum  al-Qur’ān  datang dari  Allah Swt., tetapi  akhirnya  tidak  murni  lagi  sebab  dicampuradukkan  dengan  ide-ide manusia di zamannya. 

2.  Al-Qur’ān  sudah dijaga  kemurniannya  oleh  Allah  Swt. sampai  sekarang. Umat Islam juga sebagai penjaganya.  

3.  Menjadikan  al-Qur’ān  sebagai  petunjuk  dan pedoman  hidup, dan tidak  sekalikali berpedoman kepada selain  al-Qur’ān. 

4.  Berusaha untuk membaca  al-Qur’ān  dalam  segala kesempatan  di kala  suka maupun duka, kemudian belajar memahami arti dan isinya. 

5.  Berusaha untuk mengamalkan isi  al-Qur’ān  di dalam  kehidupan sehari-hari, baik di waktu sempit maupun di waktu lapang.

Jumat, 06 Agustus 2021

Materi sem 2 kelas 10 pertemuan 1

Materi pertemuan 9 kelas 10

 MELAKUKAN SETTING PERIPHERAL PADA OPERATING SYSTEM (OS) KOMPUTER

 

Setting Peripheral

Dalam Operating sistem bisa dilakukan setting dari mulai yang sederhana sampai setting yang sifatnya tehnis. Lakukan setting sebagai pengguna saja dulu, dengan membuka desktop, lalu klik kanan mouse, yang akan kita setting adalah berupa tampilannya saja, kita membuka Display Properties .

 Themes; desktop screen saver; appearance; setting

Lalu kita klik pilih color qualitynya yang lebih rendah maka, kita biasa lihat hasilnya.

Atau kalau kita geser screen resolutionnya lebih kecil, maka di layar akan lebih besar bentuk gambarnya. Makin kecil tampilannya makin pada resolusinya.

Coba saja, untuk latihan setting screen saver, kita boleh memilih tampilan apa tergantung ketersediaan filenya

Tidak Display saja yang bisa dilakukan setting, ada banyak menu yang bisa dilakukan setting, kita buka dari mulai Control PANEL. Biasanya sudah menjurus pada-setting untuk keperluan tehnis, termasuk keperluas jaringan, koneksi internet.

Tugas praktikum 1 kelas X

Materi tugas dapat dilihat pada link berikut https://docs.google.com/document/d/14TNsNSDX2yrJZzbh3MfyWFtRt2ki0h5pFOOQUzv_5Ww/edit?usp=drives...